Ternyata tidak hanya kita sebagai pasien yang sulit mencari dokter yang RUD (Rational use of drugs), yang rasional dalam memilih dan meresepkan obat-obatan, ternyata dokter pun bisa kesulitan juga menerapkan RUD untuk pasien2nya yg sudah salah kaprah selama ini...
Berikut saya cuplik curhat seorang dokter di milis SEHAT
(dok boleh ya saya kutip..biar jadi pelajaran bersama)
----------------------------------------------------------------------------
salut dech sama dr. wati yang pantang menyerah menerapkan RUD ampe berpayah-payah ke india dan bikin seminar PESAT, hehehe...
soalnya bikin orang jadi RUD tuh capek, uda butuh waktu lama, kadang ga diterima si pasien, de el el.
saya jadi pengen curhat niy, misalnya ber-RUD ria dengan
ga ngasih obat batuk pilek (terapi yang di "sehat", dan di aap juga begini kok, kayaknya ini standar yang bener) dan supaya mereka percaya diri saya kasi no. telp saya, eh, kebanyakan kalo besok2 anaknya batuk pilek lagi
mereka sms, "uda batuk pilek sekian hari, dah dikasi puyer dokter Z, tapi sekarang blun sembuh, obatnya baiknya pakai apa ya dok?".
kalo ga dijawab (males, uda cape ngajarin hasilnya begini lagi) ada yang ngemaki-maki, kesel juga siy, emangnya saya tukang obat?, kalo dijawab pake breathy dan balsam, 2 jam lagi akan sms lagi, hehehe..., susah dok... kata perawat juga pasien dokter eka ga gitu banyak karena obatnya mungkin "kurang canggih",wakakakak... .
ada juga yang anaknya diare dan rada ga mau makan lantaran kandidosis oral (selama sakit ga mandi apalagi gosok gigi) cuma dibilang dikasi oralit, gosok gigi, lidah dibasuh dan dilap kassa steril dulu, bila perlu pakai daktarin oral gel, harus sabar karena diare adalah proses
ngeluarin racun dan kuman, karena itu bukan distop, eh... ibunya protes dan bilang bahwa malam-malam ke dokter kalo cuma begini doang sih saya juga tau, ga perlu datang ke dokter (doi uda bawa kaopektat, lakto-b dan nifural dan
bilang uda punya kandistin dirumah).
masih banyak cerita "penderitaan" mau nyebarin RUD tuh dok, coba aja, "dok, kalo tempra siy saya uda punya dan ga manjur (panasnya dari pagi), biasanya sama dr. A selalu dikasi puyer panas, jadi obatnya berbentuk puyer saja ya....".
Blun lagi pernah di rumah sakit ditengah kota yang notabene kalangan menengah ke atas, ortunya begitu duduk langsung bilang "obatnya yang cespleng ya dok, saya sibuk, dan ga tahan juga dengerin dia batuk, puyernya yang manis", kalo ga dikasi antibiotik, pagi ke
saya, sore sudah berobat ke dokter lain minta antibiotik.. ..wakakakakkkkk. ... cape dech....
saya pernah ceramah disuatu TK tentang pentingnya pencegahan batuk/pilek dan diare dengan kebersihan dan cuci tangan plus RUD pada common problem in children, eh salah satu peserta ternyata anaknya pernah datang ke saya waktu itu didiagnosis viral infection dan disuruh observasi, langsung menghampiri dan bilang bahwa kemarin ke dokter anu dan didiagnosis DBD dan tipus tapi uda sembuh setelah demam 3 hari tanpa dirawat....
Yang lebih serem ada anak 1 tahun 4 bulan datang ke
IGD demam hari ke-4, saat itu dari pagi sudah turun karena sudah didiagnosis 2 kali tipus sebelumnya, walau panas turun tetap minta dirawat, barangkali ini tipus yang ke-3 (mau diceramahin ampe berbusa juga sulit yang tipe
begini - kemungkinan cuma eksantema subitum tuh anak, hihihi) .
Ada juga yang pernah saya bilang ini infeksi virus, observasi dan cukup parasetamol, dikasi tau tanda-tanda DBD dan kegawatannya, esoknya ke dokter lain dibilang
tipus dan lusanya syok DBD... hehehe, tapi tetep kalo balik lagi minta dikasi puyer dan harus obat yang banyak, ga mau cuma parasetamol doang kalo panas.... wakakakak... .
blun lagi imunisasi simulatan, stigmanya ntar anaknya ga kuat kalo disuntik banyak-banyak (apalagi ditambah aturan bahwa setengah jam setelah diimunisasi tidak diperkenankan pulang untuk pemantauan
syok anafilaksis) , ......capek buanget nerapin plus promosi RUD,
apa dr. wati atau para SPs punya nasehat buat saya?. tks before, Wass Eka