Berpikir positif !
Itulah yang selalu aku sampaikan kala share dg temen-temen milis.
Saat ada ibu yg mengeluh tentang anaknya tidak mau makan dan hanya maunya digendong/menyusu saat ia menyuapi ketika ia sedang ada di rumah tapi mau jika disuapi si mbak. Aku mengatakan, coba lihat sisi positifnya, mungkin saja sebenarnya si anak ini bukannya gak mau disuapi mamanya dan lebih suka disuapi si mbak, tapi bisa saja si anak ini begitu kangennya sama si mama yg bekerja di hari biasa. Jadi bukannya si mbak lebih jago nyuapin si anak, tapi si anak melihat ibu ini bukan sebagai figur tukang suap, melainkan figur dimana dia bisa bermanja-manja, sesuatu yg mungkin susah didapat di hari jika ibunya sedang bekerja.
Ada yg mengeluh tentang suaminya sepertinya lebih suka makanan mamanya daripada masakan istri, aku mencoba mengajaknya berpikir positif. Mungkin saja bukan karena sang suami tidak suka masakannya, tapi bisa jadi itu masalah perbedaan selera. Dan ternyata memang masalah perbedaan selera yg terjadi.
Aku juga sering share tentang pentingnya berpikir positif tentang produksi ASI, karena produksi ASI benar-benar dipengaruhi oleh pikiran kita. Jika kita sudah begitu yakin produksi ASI kita seret, dan pikiran itu akhirnya menjadikannya kenyataan.
Saat share tentang pentingnya berpikir positif saat hamil dan melahirkan, aku selalu menekankan, jika kita tenang, relaks, berpikir positif kita mampu melalui kehamilan dan persalinan dg lancar, otomatis otot-otot kita juga akan ikut relaks sehingga memudahkan kita dalam menghadapi persalinan.
Berpikir positif tak semudah mengucapkannya, karena bagi kita kadang-kadang lebih mudah untuk berpikir negatif terhadap sesuatu. Misalnya ketika kita sedang ditimpa musibah, mungkin lebih mudah bagi kita menyalahkan orang lain, menyalahkan situasi, atau kadang-kadang menyalahkan keadaan, kenapa begini, kenapa begitu, kog begini, kog begitu.
Perlu usaha keras dan merubah sudut pandang untuk bisa belajar bagaimana caranya bisa selalu berpikir positif di segala situasi.
Dulu waktu jaman kuliah aku punya teman baik yg sering aku kunjungi rumahnya, biasanya kami saling bercerita & berbagi apa saja. Tapi entah kenapa teman-temanku yg lain tidak begitu suka padanya, menurut mereka, temanku ini orangnya suka pamer padahal biasa saja, sombong, dsb. Suatu kali mereka bercerita, melihat temanku ini di bis dan menyapanya dg melambaikan tangan dari jauh, tapi tak ada balasan dr sang teman. Dari situlah mereka mengatakan temanku itu sombong.
Ahhhh, kenapa mereka tak berpikir positif sih, temanku itu kan memakai kacamata, tebal pula, bisa saja kan dia tidak melihat dg jelas, walaupun matanya seolah-olah melihat kita.
Mamaku banyak sekali berperan membentuk dan mengarahkan aku utk berpikir positif. Tiap kali aku curhat atau bercerita ttg sesuatu, mamaku kadang2 dg nasihat2nya berkata yg agak melawan arus..tp mengajak aku utk berpikir dr sisi positif.
Suatu kali waktu hamil anak pertama, kehamilanku sungsang, dan mamaku mengatakan, yakin sajalah, berpikir positif sambil meminta doa pd Allah, mudah2an dimudahkan jalan oleh Allah. Alhamdulillah..akhirnya berhasil lahir normal tepat waktu dan si calon bayi sudah tdk lagi sungsang di minggu ke 38.
Suatu kali aku cerita ttg tanteku yg bersikap kurang baik thd ponakan2 maupun ipar2nya, bahkan kadang2 termasuk mamaku, tapi lagi2 mamaku mengingatkan kami utk tetap menjaga silaturahmi & utk tdk berpikir buruk ttg mereka.
Kadangkala lebih mudah bagi kita berpikir negatif tentang orang lain dr sisi kita saja, tanpa berusaha utk menggali lebih jauh dan mencoba mencari sisi lain yg mungkin saja dpt merubah sudut pandang kita akan sesuatu.
Misalnya ketika kita menelfon seseorang untuk menagih utang/janji misalnya, telf berkali2 selalu gagal atau tdk diangkat. Apa yg kita pikirkan saat itu? Pasti kita berpikir dia tdk mau mengangkat & menghindar dr kita kan? Apakah terpikir oleh kita bahwa bisa saja org tsb saat kita telf sedang tidur, mandi, ke kamar mandi, sholat, keluar, sedang nanggung masak, sakit, nyusuin anaknya, salah menaruh telf, dsb?
Kadang kita begitu mudah terprovokasi utk berpikir negatif ketimbang berpikir positif.
Saat kita sedang menunggu angkot di pinggir jalan..tahu2 dr kejauhan kita melihat mobil saudara kita, kita melambaikan tangan & berusaha bersikap ramah, tp ternyata tdk ada tanggapan, mobil itu melaju terus, tdk ada lambaian balasan, apalagi mampir utk menawarkan tumpangan. Apa yg kita pikirkan? Apa yg kita rasakan? Sakit hati? kecewa? marah? sedih? mengumpat & berkata "sombong"?
Sekali lagi, berpikir positif itu sangat tdk mudah. Kita lebih mudah utk terpancing berpikir negatif ttg sesuatu. Tapi bisakah kita belajar utk merubah sudut pandang kita? Belajar mengubahnya dr sisi lain? Melihatnya dr sudut pandang yg berbeda/berlawanan arah? Berpikir dr sudut pandang orang lain? orang kedua atau ketiga?
Berpikir positif memang tdk mudah, tapi kita bisa melakukannya jk kita mau! Selagi kita tdk menutup hati & pikiran kita utk pikiran yg positif.
Berpikir positif jika kita selalu melakukannya dalam berbagai hal akan membuat kita sehat, pikiran kita lebih bersih, hati kita lebih tenang, dan kita pun hidup lebih ringan, jauh dari stres. Ya, sehat secara psikologis, tentu juga akan berimbas pada sehat secara fisik.
Coba..berapa banyak penyakit yg berawal karena pikiran & perasaan? Mulai maag, asma, darah tinggi, dsb.
Bahkan penyakit kanker pun bisa sembuh jk kita selalu semangat & berpikir positif. Contohnya artis Rima Melati yg berhasil sembuh dr kanker payudara.